Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah.
Urgensi niat dalam ibadah sangat penting, karena setiap amal tergantung pada niatnya. Kajian rutin di Masjidul Hidayah membahas hadis Arbain Nawawi yang menjelaskan bahwa niat adalah dasar dari semua perbuatan. Niat yang baik dapat mengubah aktivitas sehari-hari menjadi pahala, menjadikan setiap tindakan bernilai di sisi Allah.
You may be interested in these questions:
- Apa itu niat dalam ibadah?
- Mengapa niat penting dalam setiap amal?
- Bagaimana cara memperbaiki niat kita?
Alhamdulillahi wa kafa wasalatu wasalamu alan nabiil mustofa sayyidina wa habibina Muhammadin ibni abdillah wa ala alihi wasohbihi wanwalah.
Ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna sayyidana wa maulana Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli wasallim wabarik ala sayyidina Muhammadin alfatihi lima ugliq walimi lima sabaq nasiril haqqi bilhaqq Al-Hadi al-I’tikal adalah hal yang benar untuk dilakukan. qu subhanaka la ilma lana illa ma alamtana innaka antal alimul hakim sadaqallahulzim
bapak-bapak ibu-ibu, hadirin wal hadirat jemaah masjidul hidayah yang insyaallah dirahmati dan diridai oleh Allah subhanahu wa taala.
Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa taala karena dengan rahmat, inayah, taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga pada malam hari ini kita bisa berkumpul di tempat yang paling mulia di muka bumi ini yaitu masjid Nabi sabdakan, biqil ardi masajiduha.
Sebaik-baik tempat di permukaan bumi ini adalah masjid. Maka siapa yang dimudahkan langkahnya untuk berangkat memakmurkan masjid, maka ini adalah satu tanda Allah Subhanahu wa taala akan memuliakan dia. Kami tidak lupa untuk memberi hormat kepada Tuhan Nabi Muhammad yang Agung (salam dan berkah Allah ke atasnya).
Karena semua kebaikan-kebaikan yang kita rasakan saat ini mulai dari yang sifatnya ubudiyah, ibadah hingga yang sifat sifatnya secara umum. Ini semua adalah berkatnya baginda Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Dalam sebuah riwayat, Allah Subhanahu wa taala berkata kepada Nabi Muhammad kita (salam dan berkah Allah ke atasnya).
Lolak Lawalak atau Muhammad Ma Khalq al-Aflaq Kalau bukan karena engkau wahai Muhammad, maka sungguh aku tidak akan menciptakan alam semesta ini. Maka kita memulai majelis ini setelah kita tentunya bersyukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala jangan sampai kita lupa untuk berdoa kepada Nabi Muhammad (salam dan berkat Allah ke atasnya).
Allahumma sholli wasallim wabarik alaihi wa ala alih. Hadirin wal hadirat, Bapak-bapak, Ibu-ibu yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala.
Pada malam hari ini sangat istimewa karena yang pertama kali suatu kehormatan bisa dipanggil untuk belajar menyampaikan ilmu yang sudahulu dipelajari di pondok pesantren beberapa Jumat yang lalu. sempat berbicara dengan kakek saya, kakek saya ee yaitu ee Bapak Haji Calik Suang. Kemudian ada niatan untuk ee membuat pengajian. Maka alhamdulillah ini satu kehormatan bisa berada di sini. Semoga ee Allah luruskan niat dan semoga insyaallah bisa membersamai terus dan memberikan manfaat ee untuk umat. Bapak-bapak, Ibu-ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala.
Pada malam hari ini kita akan membahas satu hadis yang mana hadis ini adalah hadis yang kita ambil dari al-arbain an-Nawawiyah. Sebelum kita masuk kepada tema, maka sebelumnya kita mesti ada mukadimah, ada pembukaan dulu. Sebenarnya kitab apa sih ini? Al-Arbain An-Nawawiyah.
Jadi kitab Arbain Nawawiyah ini adalah kumpulan 40 hadis yang disusun oleh Al Imam Yahya bin Syarof an-Nawawi. Mungkin sebagian dari kita sudah tahu siapa itu Imam Nawawi.
Beliau adalah ulama dalam mazhab Syafi’i yang begitu agung, yang begitu terkenal. banyak karyanya, harta pengetahuan yang ia sumbangkan untuk Islam demi Islam. Maka beliau menyusun satu kitab kecil yaitu Al-Arbain Nawawiyah. Kumpulan 40 hadis.
Apa yang memotivasinya mengumpulkan 40 hadits? Ternyata ada ceritanya. Jadi beliau mengetahui ada satu riwayat dan bukan hanya satu riwayat tapi beberapa riwayat di yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat termasuk Sayidina Umar bin Khattab termasuk e sahabat-sahabat yang lainnya bahwasanya Nabi sallallahu alaihi Wasallam ia berkata, “Man hafid ala umati arba arina haditan min amriha baahu Nabi berkata, “Siapa di antara umatku yang yang menjaga, yang mengumpulkan, yang menghimpun atau bisa dikatakan yang menghafal, yang mengkaji, kemudian menyampaikan 40 hadis dariku dari urusan-urusan agama, maka Maka Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat akan bangkitkan di dalam golongannya para fuqaha, orang-orang ahli fikih, para ulama. Dalam salah satu narasi, diceritakan bahwa waunt lahu syahidan yaumalqiamah syafi’an waahidan yaumalqiamah. Nabi mengatakan, “Bukan hanya itu.” Dalam riwayat lain, pada hari kiamat aku yang akan bersaksi dan akan memberi syafaat kepada dia.
Dalam narasi lain dikatakan, “Waqil lahu udul min ay abwabil jannati.” Dikatakan kepada pria itu, “Masuklah kalian surga. Masuklah kami kamu surga di pintu mana saja yang kamu inginkan.” Nah, maka atas dasar 40 hadis yang tadi yang diriwayatkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, maka akhirnya beliau tergerak.
Bukan hanya dia, tetapi banyak ulama yang telah menyusun 40 hadits. Tetapi yang paling masyhur, yang paling terkenal, dan yang hampir semuanya dikaji di seluruh Indonesia bahkan di seluruh dunia ini adalah al-arbainnya Imam Nawawi.
Mengapa begitu populer kitab ini? Karena kitab ini membahas 40 hadis tentang pokok-pokok beragama. di dalamnya nanti akan ada 40 permasalahan yang pokok di dalam Islam yang bisa menjadi pedoman kita dalam hidup dan berkehidupan.
Hadirin yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala, maka Al Imam an-Nawawi beliau mengawali 40 hadis ini dengan hadis yang pertama yaitu hadis tentang niat.
Saya bacakan hadisnya. an amiril mukminin abi hafsin Umarn Khattab radhiallahu taala anhu qasulullahi shallallahu alaihi wasallam yaakul innamal aalu bin niyat wa innama likulliri ma nawaat hijratuhu ilallahi waasulihi fahijratuhu ilallahi waasulihiat hijratuhu
Dari amirul mukminin Abi Hafz Umar bin Khattab radhiallahu taala anhu. Dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah (salam dan berkah Allah ke atasnya) berkata, “Sesungguhnya, setiap perbuatan, setiap perbuatan bergantung padanya. pada niatnya.” Dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas oleh Allah berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya pahalanya adalah untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang berhijrah karena dunia yang dia kehendaki atau karena wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya sebagaimana apa yang dia niatkan. Hadirin yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Dalam hadis yang pertama ini, Imam Nawawi membahas tentang niat.
Mengapa niat begitu penting atau apa yang memotivasi Imam Nawawi untuk meletakkan hadits niat di awal Bukumunya? Bahkan kalau kita lihat beberapa kitab seperti Sahihul Bukhari, kitab-kitab yang lain, maka kitab-kitab yang disusun oleh ulama-ulama tadi, maka hadis yang pertama kali yang mereka akan tampilkan di dalam mukadimah adalah innamal a’alu bin niyat. Hadis tentang niat. Kenapa niat ini begitu penting? Karena niat ini adalah asasnya amal. Niat adalah pokok di dalam kita beramal. Bahkan al Imam Asyafi’i rahimahullah beliau mengatakan bahwasanya niat ini adalah sepertiga daripada agama. Mengapa beliau mengatakan niat ini sepertiga dari agama? Karena sejatinya perbuat ee amal manusia itu ditentukan oleh tiga faktor atau didorong oleh tiga perkara. Yang pertama niat, kemudian yang kedua ucapan, kemudian yang ketiga tergerak dari menjadi perbuatan. Maka niat ini begitu penting sehingga beliau mengawali hadis ini dengan niat.
Nah, sebelum kita lebih jauh tentang masalah niat ini, maka kita perlu mengetahui apa sebenarnya niat itu. Nah, niat secara bahasa adalah al-qasdu yang artinya menyengaja. Kalau dulu kami di pesantren itu bertanya-tanya apa artinya menyengaja, alqasdu menyengaja, sengaja. Nah, setelah kami pikir-pikir, makna yang tepat untuk kata-kata al-qasdu itu adalah dorongan atau motivasi. Nah, maka niat itu secara bahasa adalah dorongan-dorongan, dorongan-dorongan dari hati kita untuk melakukan satu perkara.
Secara istilah niat itu adalah kalau di dalam mazhab kita, mazhabuna assyafi’i. Al Imam Assyafi’i di dalam kitabnya mengatakan niat itu adalah qosdul fi’li muktarinan qasdusaii muktarinan bi’lihi. menyengaja sesuatu yang sejalan dengan perbuatannya atau melakukan sesuatu, berniat melakukan sesuatu yang sejalan dengan perbuatannya. Inilah yang namanya niat. Nah, jadi dari sini bisa kita tahu bahwasanya niat ini adalah motivasi atau dorongan-dorongan. Nah, ada an ada satu analogi yang mengatakan bahwa ibarat kita naik mobil maka niat itu adalah ibarat kemudi atau ibarat setirnya ke mana kita mengarah.
Nah, itu memang maksudnya. Kemudian karena niat ini adalah keinginan atau maksud yang ada di dalam hati, maka kita tidak bisa mengatakan bahwasanya niat itu hanya di lisan saja. Kita tidak bisa hanya mengatakan, “Ya Allah, saya niat salat karena Allah.” Nah, yang terpenting daripada niat adalah hati kita sadar bahwa apa yang sedang kita kerjakan dan untuk siapa kita mengerjakannya. Al Imam Ibnu Rajab menjelaskan bahwa para ulama membicarakan maksud niat tadi dalam dua pengertian. Pengertian yang pertama, niat itu adalah bermaksud untuk membedakan satu ibadah dengan ibadah yang lainnya. misalnya membedakan salat zuhur dengan salat asar. Nah, kita misalnya ee niatah itu tujuannya niat untuk apa sebenarnya? Yang pertama untuk membedakan ibadah.
Zuhur ya perlu kita niat salat zuhur. Nah, asar ya dibedakan dengan niat salat asar. Kemudian yang kedua dan ini yang paling penting niat adalah menentukan siapa, untuk siapa amal tadi kita lakukan dan untuk apa, tujuan apa yang kita ee apa yang mendorong kita untuk melakukan ee niat tersebut. Apakah untuk Allah semata atau untuk manusia atau percampuran antara Allah dan manusia? Jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala, maka dari niat ini bisa kita lihat ada orang yang sama-sama datang ke masjid, sama-sama duduk di masjid, sama-sama mendengarkan kajian, tetapi belum tentu pulangnya membawa pahala yang sama. Mengapa? Karena yang dilihat Allah bukan hanya gerakan tubuh, tetapi apa yang ada di balik gerakan itu. Yang dijadikan pahala yang dinilai oleh Allah Subhanahu wa taala itu bukan hanya perbuatannya, tetapi niat atau dorongan-dorongan yang membuat dia melakukan perkara tersebut. Maka dalam hadis ini, Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Innamal a’malu bin niat.”
Nah, bahwasanya amal itu tergantung daripada niatnya. Di sini Nabi sallallahu alaihi wasallam menggunakan kata innama. Perhatikan innama.
Innama kalau dalam bahasa Arab ini memberikan makna ee membatasi. Nah, Al Imam Ibnu Rajab beliau menjelaskan bahwa para ulama memberikan penjelasan terhadap kalimat innama ini.
Di antaranya dari innamal a’malu bin niat bisa dipahami bahwasanya amal bisa menjadi benar atau rusak, amal bisa diterima atau tidak, amal mendapatkan pahala atau tidak itu sesuai dengan niat yang menyertainya di awal. Maka jangan kita mengukur amal kita hanya dari besar kecilnya pekerjaan. Bisa jadi amal yang kecil di mata manusia sangat besar di sisi Allah Subhanahu wa taala. Dan bisa jadi kebalikannya, amal yang besar di mata manusia justru kecil di sisi Allah Subhanahu wa taala. Mengapa? Karena nilai amal sangat berkaitan dengan hati yang berada di belakang amal tersebut atau dorongan-dorongan hati kita untuk melakukan amal yaitu niat.
Jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala, maka kita bisa ambil contoh yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Satu permisalan misalnya ada seorang bapak, ada seorang laki-lakiah yang berangkat pergi kerja, berangkat pagi kemudian pulang sore. Nah, tentunya dia merasakan capek. Tentunya dia keringatan. Kalau Bapak tadi ditanya, “Pak, untuk apa Bapak bekerja?” Maka dia akan menjawab, “Saya bekerja ini keluar dari rumah untuk mencari nafkah, untuk mencari uang.” Nah, tentunya niatnya ini tidak salah. Niatnya ini betul.
Tetapi kalau niatnya tadi diperbaiki atau dorongan-dorongan tadi coba diubah, nah diperbaiki niatnya. Ya Allah, saya niat keluar dari rumah untuk mencari rezeki yang halal, untuk menafkahi istri dan anak-anak saya agar keluarga saya tidak meminta-minta kepada orang lain. Nah, supaya juga saya bisa beribadah dengan tenang. Nah, saya bisa bersedekah. Nah, supaya bisa membantu orang lain. Nah, maka dari pekerjaan kita keluar dari rumah untuk bekerja ini bisa berubah menjadi ibadah. Nabi (salam dan berkah Allah ke atasnya) berfirman, “Man amsaan min amali yadi amsa magfuron lah.” Siapa keluar dari rumahnya, dia berniat karena Allah, bekerja untuk mencari rezeki yang halal untuk menghidupi keluarganya, maka dia pulang dari rumahnya dalam keadaan dosa-dosanya sudah diampuni oleh Allah subhanahu wa taala. Begitu pentingnya niat ini. Nah, satu contoh lagi, ibu-ibu. Nah, ada ibu-ibu melakukan pekerjaan-pekerjaan di rumah. Kalau bapak-bapak di luar bekerja, kalau ibu-ibu di dalam rumah tentunya kesibukan-kesibukan di dalam rumah bermacam-macam. Nah, dia memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, mengurus anak.
Nah, kalau hanya dipandang sebagai pekerjaan rumah tangga, nah mungkin akan terasa melelahkan. Tetapi kalau diniatkan, ibu-ibu niatkan, “Ya Allah, saya melakukan amal di rumah ini. Saya menyapu, saya membersihkan, mendidik anak, saya lakukan ini karena ini adalah amanah darimu. Saya ingin memberikan menyiapkan makanan yang halal untuk suami saya, untuk anak-anak saya. Saya ingin membahagiakan suami dan mendidik anak-anak saya menjadi anak yang saleh. Maka setiap pekerjaan rumah yang dikerjakan ibu tadi kelihatannya seperti biasa. Tapi karena niatnya tadi yang berbeda, maka akan menjadi ladang pahala untuk dia.
Nah, satu dapur bisa menjadi amal menjadi ladang pahala. Satu sapu yang disapukan akan menjadi ladang pahala. Ini lebih penting daripada niat. Jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Ya, bahkan kita duduk di masjid ini pun bisa berbeda nilainya. Ada orang yang datang ke masjid karena ingin mendapatkan ilmu. Ada orang yang datang ke masjid karena ingin memperbaiki diri. Ada yang datang karena ingin mendapatkan rida Allah.
Ya, ada pula yang datang karena ingin dilihat. Weh, rajin tawa pergi ke masjid ini. Ini orang saleh. Nah, secara lahiriah pekerjaan yang dilakukan oleh setiap dari kita ini sama. Setiap orang ini sama berangkat ke masjid. Tetapi yang membedakan adalah dorongan atau niat di dalam dirinya. Maka inilah yang menjadikan amalan-aman tadi beda di sisi Allah Subhanahu wa taala. Maka di sinilah letak daripada rahasia amal. Rahasia amal supaya amal kita ini bernilai di sisi Allah itu rahasianya adalah niat. Nah, innamal aalu bin niat. Setiap amal yang dilakukan itu tergantung daripada niat orang yang mengerjakannya. Hadirin yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Kemudian di dalam hadis ini Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Famanat hijratuhu ilallahi waasulihi.” Fahijratuhu ilallah wa rasulihi. Siapa yang berhijrah, siapa yang melakukan kebaikan karena Allah Taala, niatnya karena Allah Taala, maka hijrahnya atau kebaikannya akan dihitung amal karena Allah Taala. Nah, kemudian Nabi mengatakan lagi, “Ijuhunijuh hajarai.”
Barang siapa yang hijrah karena dunia, melakukan sesuatu dorongannya karena dunia yang ingin dia peroleh atau karena ada wanita yang ia ingin nikahi, maka kata Nabi, maka hijrahnya tadi niatnya adalah seperti apa? pahalanya atau apa yang dia dapatkan itu seperti apa yang dia niatkan di di awal. Di sini bisa kita perhatikan Bapak-bapak, Ibu-ibu. Di sini bukan berarti bahwasanya mencari dunia itu adalah selalu adalah perkara yang haram. Bukan.
Mencari dunia adalah suatu perkara yang tercela, bukan. Tapi semua hal yang berada di luar penyembahan ini akan layak disembah. Jika memang dimaksudkan untuk ibadah, menikah tentunya adalah sesuatu perkara yang halal. Mencari rezeki adalah perkara yang halal. Nah, tetapi di dalam hadis ini Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ingin mengajarkan kepada kita, jangan sampai tujuan-tujuan duniawi itu mengalahkan tujuan akhirat kita. Hadirin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala. Nah, ini ada satu hal yang sangat menarik. Ada dua orang yang melakukan pekerjaan yang sama. Orang yang pertama bekerja agar dia dipuji. Orang yang kedua bekerja untuk mencari nafkah yang halal. Dua-duanya sama-sama bekerja, namun nilai amalnya berbeda. Dua orang tadi sama-sama memberikan uang. Ya, yang pertama memberi agar namanya disebut. Yang kedua, memberi karena mengharap rida Allah. Nominalnya mungkin sama atau mungkin nominalnya berbeda. Yang niatnya dunia lebih banyak, yang niatnya akhirat lebih sedikit.
Nah, tetapi nilai di sisi Allah Subhanahu wa taala itu tentunya berbeda. Nah, karena itulah Allah Subhanahu wa taala melihat hati kita. Maka niat ini memberikan pelajaran bahwa ee dalam diri kita bahwasanya amal kita ini bisa bernilai kalau hati kita itu bersih. Amal kita ini bisa luar biasa ee luar biasa pahalanya sesuai daripada hati kita. Tergantung dorongan-dorongan hati kita. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Lyanalallahu luhumuha wala dimauha wakin yanaluhut taqwa minkum.” berkenaan dengan daging dengan menyembelih hewan kurban. Allah Subhanahu wa taala berfirman bahwasanya daging atau darah hewan kurban yang kalian kurbankan itu darahnya dagingnya tidak sampai kepada Allah pada zahirnya.
Tetapi yang sampai kepada Allah adalah niat atau ketakwaan kalian. Bukan bentuk luar, bukan bentuk zahir yang menjadi ukuran utama dari dalam setiap perbuatan, melainkan kesalehan dan keikhlasan di dalam hati kita itulah yang menentukan amal-amal manusia.
Nah, hadirin yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala, maka dalam hadis ini ada satu pelajaran yang bisa kita petik bahwasanya Islam tidak memisahkan kehidupan kita secara kaku antara ibadah dan kehidupan. Islam ini tidak memisahkan ibadah dengan kehidupan. Ibadah ya ibadah, kehidupan ya kehidupan. Tidak. Justru Islam ini menggabungkan semuanya. Kalau niat kita benar, dorongan dalam hati kita benar, banyak aktivitas dalam kehidupan kita sehari-hari bisa menjadi pahala. Tidur. Tidur kita, Bapak, Ibu. Tidur ini kelihatannya seperti perkara duniawi. Tetapi kalau kita niatkan tidur ini dengan niat mencari rida Allah, kita niatkan tidur ini untuk perintah Allah Subhanahu wa taala. Kita niatkan tidur kita supaya kita bisa kuat beribadah. Kita niatkan tidur malam kita supaya bisa salat tahajud. kita niat tidur kita apalagi kalau ditambah niatnya ikut sunah Rasulullah. Ah kita belajar bagaimana sunahnya tidur bagaimana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika tidur. Nah, maka tidur kita tidur kita ini walaupun kelihatannya seperti tidur biasa ini nanti nilainya di sisi Allah luar biasa besar. Makanya ada satu hadis yang mengatakan, “Tidurnya orang yang berilmu lebih ditakuti setan daripada ibadahnya orang yang ahli ibadah.”
Nah, kalau kita melihat daripada zahir hadis ini, kelihatannya kok bisa tidurnya orang yang berilmu lebih ditakuti setan daripada ibadahnya orang yang beribadah. Tetapi kalau kita mau sandingkan dengan niat ini, kita sandingkan dengan hadis niat ini, justru lebih masuk akal tidurnya orang yang berilmu. Tentunya yang dimaksud berilmu di sini adalah orang yang tahu niat itu bagaimana, mengetahui derajat niat itu seperti apa di dalam ibadah, maka tentu tidurnya tadi itu lebih utama di sisi Allah Subhanahu wa taala. Bahkan lebih takuti setan daripada tidurnya orang yang ahli ibadah. Mungkin ketika orang yang beribadah dia niatnya satu aja ya.
Nah, ahli ibadah misalnya dia beribadah niatnya apa? Ya saya salat jemah ini karena rutinitas. Nah, setiap hari ya salat ya saya salat. Teman saya salat ya saya ikut salat. Nah, dia niatnya mungkin seperti itu. Sedangkan orang yang tidur, orang yang berilmu tadi dia tidurnya itu niatnya supaya saya bisa bangun tahajud. Nah, bahkan dalam hadis tu dijelaskan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, siapa yang tidur dia niat berniat untuk tahajud, berniat untuk salat lail, kemudian ternyata dia kesiangan, nah dia tidak bangun pada malamnya, maka Allah Subhanahu wa taala sudah tulis pahala dia mengerjakan tahajud secara sempurna. Maka inilah peranan niat ah di dalam ibadah-ibadah kita. Maka niat ini satu perkara yang penting. Nah, niat ini jangan kita pahami hanya untuk dalam segi ubudiyah atau ibadah saja. Salat ya kita niat ini puasa ya niat.
Justru niat ini dalam setiap aktivitas kehidupan kita ini kita membutuhkan niat. Karena amalan atau aktivitas apa saja yang kita lakukan kalau didasari dengan niat yang betul, niat yang baik, nah maka tentunya kita akan mendapatkan pahala dari Allah. Nah, sesuai dengan apa yang kita niatkan. Maka coba kita koreksi diri kita sekarang, Bapak, Ibu. Sekarang kita duduk di masjid iniah. Coba kita niat. Ada gak dari kita ini yang duduk di masjid sekarang untuk niat iktikaf? Nah. Ah ini terkadang juga kita ee apa kita ini lupa loh. Iya ya saya niat iktikaf.
Padahal Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, Wajhillah Jaallahuahu Wainaradi yang masuk ke masjid kemudian berniat mengucapkan kaul meskipun hanya sesaat waktunya di masjid dia masuk niat iktikaf kemudian keluar masjid maka apa kata Nabi ja’alallahu bainahu wainanarik maka Allah subhanahu wa taala Alah akan jauhkan dirinya dengan neraka sejauh tiga parit. Nabi menjelaskan jaraknya satu parit dengan parit yang kedua itu jaraknya seperti jarak langit dan bumi. Nah, ini kita baru niat iktikaf. Nah, maka coba kita perbaiki niat kita duduk di masjid ini. Nah, sama-sama coba sama-sama Pak kita ee lafalkan. Nawaitu nawaitu aliktikafa altikafa lillahi taala lillahi taala. Saya niat Aku berniat mengucapkan sumpah di masjid. beriktikaf di masjid karena Allah Taala. Karena Allah Taala. Nah, maka kita niat e iktikaf di masjid ini sudah Allah jauhkan kita dari neraka sejauh 3 parit. Ini baru niat iktikaf. Belum kalau kita masuk masjid ada niat lagi. Nah, jadi ibadah yang paling mudah itu, Pak, niat. Ibadah yang paling mudah niat. Dalam satu amal, satu pekerjaan, kita bisa niat banyak. Contoh, kita duduk di masjid ini, kita bisa niatnya banyak.
Bukan hanya kita niat iktikaf. Saya niat untuk mendengarkan ilmu. Saya niat untuk duduk untuk mencari ilmu. Ah, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sabdakan, “Man khja fi baitihi thabil ilmi fahua fiabilillah hatta yarji.” Siapa yang keluar dari rumahnya niat untuk menuntut ilmu, maka dia dihitung fisabilillah sampai dia kembali dari kembali pulang ke rumahnya. Maka kalau kita, Bapak, Ibu, kami keluar dari masjid ini, misalnya setiap Minggu malam, Sabtu ada pembacaan di masjid. Jadi saya sadar masjid mulai dari rumah kita sudah niatkan, saya niat untuk menuntut ilmu. Maka ketika kita sudah niat seperti itu, Allah hitung kita fisabilillah sampai datang kembali ke rumah. Nah, apa keuntungannya fisabilillah, Bapak, Ibu? Keuntungannya orang yang fisabilillah itu setiap amal yang dia kerjakan Allah Subhanahu wa taala akan lipatkan 700 kali.
Dalilnya mana? Dalilnya di dalam Alquran. Matalu maunfiquuna fiilillahi kamali habbatinatbah wallahuasya Wallahu Wasiulim. Orang yang berinfak. Nah, berinfak ini menggunakan baik umurnya, baik tenaganya, baik hartanya. Jadi, infak ini luas. Nah, bukan hanya harta saja, tapi infak ini bisa infak waktu kita. Kita gunakan waktu kita, gunakan umur kita, gunakan potensi kita. Ini infak. Kita gunakan hati kita, infak fisabilillah di jalan Allah.
Ya, maka Allah subhanahu wa taala lipatkan 700 kali seperti orang yang menanam satu benih yang mana dari satu benih tadi akhirnya tumbuhlah tujuh tangkai. Dari tujuh tangkai tadi setiap tangkainya ada 100 biji. Berarti 7 * 100 = 700. Nah, ini minimal-minimalnya orang beramal fisabilillah. Jadi kalau kita keluar dari rumah kita, Bapak, Ibu, kita niat. Niat dari rumah kita untuk menuntut ilmu ke masjid, maka setiap langkah kita ini dikalikan 700. Langkah satu 700, langkah 1 700. Berapa langkah kita dari rumah ke masjid? Ah, sebanyak itulah kelipatan-kelipatan ganjaran yang diberikan Allah Subhanahu wa taala kepada kita. Belum lagi kalau kita duduk di dalam majelis ilmu, Nabi sallallahu alaihi wasallam beliau bersabda, malaikah. Orang yang duduk di masjid untuk mencari ilmu, maka Allah Subhanahu wa taala akan memberikan empat hal kepadanya. dia. Apa empat tadi? Yang pertama nazalat alaih sakinah. Allah Subhanahu wa taala akan berikan sakinah, ketenangan jiwa. Tenang jiwanya. Akhirnya ketenangan jiwa itu dia bawa dari masjid ke rumahnya.
Jadi jika seseorang sering duduk dalam studi ilmu pengetahuan, duduk di masjid membaca Al-Qur’an, maka ia membawa nur dari rumahnya sehingga rumahnya akan tenang, rumahnya akan jadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Maka kalau ditanya bagaimana sebenarnya tipsnya supaya orang itu pernikahannya sakinah, mawadah, warahmah, salah satu tipsnya ini adalah sering-sering ikut kajian, sering-sering baca Quran, sering-sering makmurkan masjid. Nah, karena di antara keutamaannya Allah Subhanahu wa taala akan turunkan sakinah. Kemudian yang keduaahmah kasih sayang Allah akan meluas untuk dia. Yang ketiga, malaikah malaikat-malaikat akan berkeliling berduyun-duyun datang kepada dia. Apa keuntungannya kalau malaikat datang kepada kita? Nah, itu malaikat. Nah, ada di dalam fadilah amal itu ada itu malaikat yang namanya sayyahin. Malaikat-malaikat yang tugasnya mencari majelis-majelis zikir. Majelis zikir, majelis ilmu. Pokoknya duduk di tempat di mana Allah dibesarkan, di mana Allah diagungkan, di mana ilmu agama ini dibicarakan. Maka malaikat itu kan berduyun-duyun.
Kalau dapat akan berduyun-duyun datang situ. Kemudian kalau setelah majelis, ah, maka malaikat tadi akan mendoakan ampun kepada orang-orang yang duduk di situ. Malaikat akan mengatakan, “Kumu magfurun lakum qod buddilat sayiatukumul hasanat.” Berdirilah kalian, diampuni dosa-dosa kalian. Ah, segala keburukan-keburukan kalian diganti dengan kebaikan-kebaikan. Apa yang terakhir? Siapa yang duduk dalam studi tentang kemakmuran masjid, maka Allah Subhanahu wa taala akan membuatnya bangga di hadapannya majelis para malaikat. Bapak-bapak, Ibu-ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala. Maka inilah kepentingan niat di dalam setiap ibadah kita. Nah, maka dari sini kita bisa ambil kesimpulan bahwasanya yang pertama niat itu tidak mesti di dalam ibadah. Niat itu tidak mesti di dalam salat. Tetapi niat ini dalam setiap aktivitas hidup kita. bagaimana kita niatnya karena Allah subhanahu wa taala.
Kemudian sebelum menutup daripada majelis ini karena waktunya ee sudah masuk Isya, ada satu hadis yang menarik ini mungkin bisa jadi oleh-oleh kita pulang ke rumah nanti. Bahwasanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda berkaitan dengan niat. Nabi bersabda, “Man hamma biasanin falam yalha kataballahuahu kataballahuahu hasanatan kamilah.” Nabi mengatakan, “Barang siapa yang berniat untuk melakukan satu kebaikan kemudian belum dia kerjakan kebaikan tadi, mungkin karena belum ada waktu, mungkin karena ee belum dia kerjakan, baru dia niatkan di dalam hati, maka Allah Subhanahu wa taala tulis untuk dia satu kebaikan sempurna.” Kemudian Nabi melanjutkan waman hamma biha faamilaha kataballahuahu asatin kalau dia berniat melakukan sesuatu dan dia amalkan, maka Allah subhanahu wa taala akan lipatkan amal yang dia kerjakan tadi minimalnya 10 kali sampai 700 kali lipatan.
Bahkan Allah subhanahu wa taala bisa melipatkan lebih banyak daripada itu. Kemudian Nabi sallallahu alaihi wasallam melanjutkan, waman hamma bisayiatin falam yaalha kataballahu lahu hasanatan kamilah. Siapa yang berniat untuk melakukan keburukan kemudian dia tidak mengerjakannya, dia belum mengerjakannya. Mungkin dia tidak mengerjakannya karena dia sadar, “Oh, ini salah.” atau mungkin dia belum ada niat mengerjakannya atau tidak ada waktu, maka Allah Subhanahu wa taala tulis untuknya satu kebaikan sempurna. Kenapa? Karena dia telah meninggal dihitung meninggalkan maksiat. Kemudian Nabi melanjutkan, “Waman hamma bisayiatin faamilaha.” Siapa yang menginginkan atau berniat melakukan satu keburukan kemudian dia mengamalkannya kataballahuaballahuahui sayiatan kamilah maka Allah subhanahu wa taala baru menulis satu keburukan untuk dia. Bapak Ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala.
Hadis ini masyaallah luar biasa. Bagaimana kasih sayangnya Allah kepada kita? Kita niat kebaikan saja baru kita niat belum kita amalkan itu sudah nilainya besar di sisi Allah Subhanahu wa taala. Kalau kita niat melakukan keburukan belum dikerjakan maka Allah Subhanahu wa taala hitung kita meninggalkan kemaksiatan. Maka dari hadis ini, hadis tentang niat ini, nah, marilah sama-sama kita betul-betul memperhatikan niat kita bukan hanya dalam setiap ibadah yang sifatnya ibadah mahdh, tetapi setiap aktivitas kehidupan kita. Bagaimana kita jadikan setiap aktivitas kita, hidup kita ini kita niatkan untuk mencari rida Allah, untuk mengamalkan sunah-sunah Rasulullah, maka setiap apa yang kita lakukan nanti akan bernilai pahala di sisi Allah Subhanahu wa taala. Hadirin yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala, mungkin ini saja yang bisa sampaikan.
Kurang lebihnya mohon dimaafkan. Nah, ada sisi pertanyaan atau mungkin bisa kita buka mungkin kalau ada yang mau bertanya. Satu dua pertanyaan terkait dengan niat. Ada yang mau bertanya? Dapat door price ini yang pertanya dapat. Masyaallah. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. ee apa yang disampaikan pada malam ini mengingatkan saya pada satu judul buku yang berjudul Islam Kesatuan dalam Keragaman. Ee di dalam buku itu menjelaskan bahwa setiap apapun yang kita kerjakan berlangkas bernilai niat karena Allah Subhanahu wa taala. apa yang diuraikan oleh ustaz tadi sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam buku secara jelas jernih seperti itu. Jadi setiap kita tinggalkan rumah berniat demi mencari rezeki untuk istri, anak dan keluarga. Apapun yang kita kerjakan nilainya harus Islam. Islam kesatuan dan keragaman. setiap langkah nafas apapun yang kita ucapkan ada manfaat kepada orang lain. Pertanyaannya apakah yang ditulis diuraikan dalam saya buku ini sudah lama sekali saya baca Pak Jadi saya sudah lupa siapa penulisnya tapi nilai manfaat ilmu yang ada dalam buku itu saya masih bawa dan hidup sampai hari ini. kira-kira apa yang bisa kita ee kemukakan, utarakan nilai-nilai hidup itu seperti apa? Seperti yang diutarakan niat tadi ya. Kita berangkat dari nilai niat itulah segala sesuatu kita memulai dan start dan seterusnya.
Demikian, Pak Ustaz. Iya. Masyaallah. Jadi ya begitulah Islam ya. Jadi Islam ini itu bukan hanya ibadah zahir, bukan hanya ibadah jasmani, tetapi Islam ini juga memperhatikan ibadah hati. Nah, sebenarnya inilah yang membedakan antara sahabat yang zaman dahulu dengan generasi-generasi setelahnya. Saya pernah membaca satu kitab judulnya Hayatus Sahabah. Di dalam kitab itu ada satu catatan bahwasanya apa letak perbedaan antara sahabat dengan generasi setelahnya. Mengapa sahabat ini mereka ini begitu tinggi derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa taala? Bahkan ada satu ungkapan. Nah, ada satu ungkapan debu ini ungkapan ya debu yang menempel di kuda di kudanya para sahabat yang paling rendah di antara mereka ini lebih baik daripada Syekh Abdul Qadir aljalanani. Kalau gak salah ini perkataannya Syekh Abdul Qadir aljalani. Beliau mengatakan, “Bahkan debu yang menempel, debu yang menempel di kuda sahabat yang paling rendah darajatnya di antara mereka itu lebih utama, lebih baik daripada Abdul Qadir Jailani. Padahal kita tahu siapa ini Syekh Abdul Qadir Aljailani.” Beliau adalah sultanul auliya, pimpinannya para aulia. Ah, di sinilah akhirnya kita bertanya sebenarnya apa yang membedakan sahabat dengan yang lain?
Kalau kita membaca Membaca banyak praktik teman dengan praktik kebiasaan, tampaknya praktik kebiasaan ini lebih besar daripada apa yang diamalkan sahabat. Sahabat itu ada sahabat Badwi yang kerjanya itu hanya salat lima waktu aja. Kerjanya itu ya yang wajib-wajib saja. Yang sunah itu jarang dikerjakan. Tapi ada tabiin yang kalau kita baca itu bagaimana manakib-manakibnya para tabiin dan generasi-generasi setelahnya hebat-heat ibadahnya. Ada yang ibadahnya salat 1000 rakaat, ada yang istikamah 200 rakaat setiap hari, ada yang seperti ini, seperti ini. Ah, hebat-hebat. Tetapi amalannya sahabat masih lebih utama daripada mereka. Ya, apa yang membedakan? Yang membedakan adalah amalan hati. Jika sahabatnya beribadah dengan mujahad, dengan tulus, hatinya benar-benar setia kepada Allah Subhanahu wa taala dan dalam puncak kecintaan kepada Rasulullah. Sedangkan generasi tabiin di bawahnya itu juga punya niat-niat seperti itu, tapi tidak sekuat daripada kecintaan dan dorongan-dorongan dalam hatinya para sahabat. Maka dari sini bisa kita ketahui bahwasanya Islam ini tidak hanya mengatur amalan, tidak hanya mengatur ibadah yang sifatnya jasmani atau sifatnya fisik, tapi Islam juga memperhatikan ibadah hati.
Ah, maka hati ini perlu kita perhatikan juga. Nah, dari hati inilah timbul yang namanya ikhlas. Nah, dari hati ini timbul yang namanya riya. Semuanya ini adalah amalan-amalan hati. Nah, coba ee ria, Pak. Kalau kita itu tidak ikhlas, setiap amalan kalau tidak ikhlas karena Allah walaupun amalannya banyak nilainya nol di sisi Allah Subhanahu wa taala. Mungkin kelihatannya amalannya luar biasa, tapi kalau tidak ikhlas, nah itu ada guru saya mengatakan orang yang beramal karena Allah tidak ikhlas itu seperti bilangan dalam matematika yang dikalikan nol. Mau 1 miliar kalau dikalikan 0 tetap hasilnya nol. Ah, begitu jugalah ee ibadah kalau tidak ikhlas. Ah, maka di sinilah perannya hati kita. Karena dari sinilah dari hati kita inilah muncul ikhlas, muncul dorongan-dorongan dalam beramal. Nah, maka di samping kita ini memperbaiki ibadah zahir, kita juga memperbaiki ibadah batin. Nah, dengan apa memperbaiki ibadah batin? Dengan memperbanyak zikrullah, mengingat Allah. Ya, zikrullah mengingat Allah ini akan memperkuat ibadah batin kita. Kalau sebagaimana jasmani kita itu ada makanannya, Pak, ada ee perlu makan, ya. Maka rohani kita ini perlu makanan. Apa makanan rohani kita? Zikrullah. Ada satu ungkapan para ulama mengatakan, “Alru idza takaro taqaror.” Satu perkara itu kalau diulang-ulang maka akan menancap menancap dalam hati. Nah, sekarang yang jadi pertanyaannya kita ini mau memasukkan dalam hati ini apa? Kalau kita memasukkan dalam hati ini kebesaran Allah, maka tentu kita harus ulang-ulang kebesaran Allah dalam lisan kita. Nah, karena hati ini kata Imam Ghazali muaranya itu ada empat. Muara yang menuju ke hati ini ada empat.
Ada salurannya empat saluran untuk sampai ke hati. yaitu ee lisan kita, pembicaraan kita, mata kita, pendengaran kita, akal kita, pemikiran kita, dan penglihatan kita, mata kita. Nah, kalau empatnya ini kita isi dengan sesuatu yang baik, tentunya hati kita ini ah akan diisi dengan perkara-perkara yang baik sehingga akhirnya akan mendorong kita untuk melakukan amal-amal yang baik, yang ikhlas karena Allah. Ada lagi Bapak ya? Insyaallah cukup ya. Insyaallah. Insyaallah ya. Mungkin sekian yang bisa sampaikan kurang lebihnya mohon dimaafkan. Kita tutup downfaratul majelis. Subhanallah wabihamdihi. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

